Titik Temu Perjalanan

Mungkin kita melihat dari perspektif yang berbeda.

Tapi bagaimana jika kita saling melihat satu titik temu yang sama?

Pagiku

Sepanjang perjalananku, hari ini aku menikmati pagiku dengan luar biasa…

Mataku tidak lagi lelah, badanku tidak lagi rentan gerak untuk memulai hari meski aku tidur terduduk dalam pelukan diri.

Perjalanan hebat dengan sahabat. Perjalanan yang mengatas namakan cinta dan keagungan Tuhan. Sebuah perjalanan yang membuat mereka tertidur sangat lelap dan senyap ditengah deru suara kereta, namun kulihat bias senyum dan rindu rumah di wajah mereka.

Pagi itu, aku turut menyambut mentari yang mulai berpijar meski sinarnya masih tersamar oleh kabut-kabut mimpi semalam. Dan masih dalam belutan kabut tipis, mataku sejajar dengan hamparan hijau membentang. Indah. Kubiarkan angin menerpa wajahku.

Terduduk kumerenung, perjalananku ini bukan semata mencari sebuah kebahagiaan. Perjalananku ini hanyalah sebagai pengingat bahwa aku harus terus kembali pulang di mana aku berasal. Perjalanan ini menantangku untuk berani melawati batas dan merangkul mimpi untuk kutata rapi. Perjalananku ini selalu mengingatkan aku untuk terus bermimpi. Terima kasih karena sepanjang jalan ini engkau telah rela kubanjiri cerita.

Ada ranah di mana aku menancapkan mimpiku dan aku tidak mau berhenti di sana hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi. Dari tempatku dan tempatmu berdiri kita sudah melihat perspektif yang berbeda. Dan sahabat, mulai dari sini, mungkin kamu akan tinggal, sementara aku akan tetap pergi, pergi menantang angin. Karena ketika aku berdiam, mimpi itu mengguncang diriku berkali-kali. Karena ketika aku terdiam, justru pijakanku tidak kuat. Karena ketika aku berdiam diri, aku akan tertinggalkan oleh perjalanan. Dan bukan pendiam-lah namaku. Aku selalu bergerak. Angin. Berhembus. Memberi nafas segar bagi para pengembara yang sedang letih. Memberi angin baru bagi mimpi-mimpi yang tersisih. Aku bergerak. Berputar. Menari. Bersiul. Membelai lembut wajah para sahabat dengan sentuhan angin di ujung pintu gerbong kereta ini. Menyadarkan mimpi-mimpi yang masih tertidur untuk terus bergerak.

Dalam perjalanan hidup ini aku punya mimpi, kamu juga. Mungkin kita telah melihat dari perspektif yang berbeda, kawan. Mimpimu. Mimpiku. Tapi bagaimana jika kita saling melihat titik temu yang sama? Mimpi kita! Kita akan berangkat. Berpencar. Tapi akan selalu kembali ke sini. Kembali ke Titik Nol di mana kita akan selalu ingat, bukan mencoba melupakan. Karena meskipun kita salah arah, pasti ada sisi cerita yang manis untuk dibagi dan kita akan memulainya lagi dari Titik Nol. Dan di Titil Nol ini kita berjumpa, berbagi untuk sekedar menyeruput kehangatan hidup atau berbagi potongan hidup yang hilang dan tanpa disadari kita saling menggenapi.

Untuk dia sang penyimpan cerita, aku akan selalu menitipkan doa dan cerita di setiap langkahku. Aku ingin kau tetap begini, menjaga dan mengingatkan mimpi-mimpiku yang mulai meredup untuk kau hangatkan lagi dan menjadikannya semakin membara.

 

Sampai jumpa di Titik Nol. Di sini kita berangkat dan di sini kita akan kembali pulang. Bumi.

 

dari meja kerjaku,

Bandung, 29 Mei 2013 12:42 PM

Peace and Love,

Febrina Widihapsari

Advertisements

Ketika Waisak Jadi Obyek Wisata

Othervisions

Lagi, prosesi tahunan tri suci Waisak 2557/2013 digelar di Candi Mendut Borobudur 24-25 Mei. Itu berarti bahwa wilayah di sekitar Mendut-Borobudur bakal dipenuhi orang. Tak hanya umat Buddhis, tapi juga para maniak fotografer yang mengalir mirip bah, wisatawan lokal maupun luar, serta masyarakat lokal.

_MG_4821_1_1

Di negara yang penganut Buddha-nya banyak misalnya, Waisak diperingati dengan sakral, penuh hormat, dan hening. Hal semacam ini sulit ditemui pada peringatan Waisak di Mendut-Borobudur. Waisak di sini lebih mirip atraksi wisata, hiburan buat masyarakat awam. Ada pasar malam yang digelar di sepanjang bagian luar Candi Borobudur hingga Mendut yang dipenuhi ribuan orang. Ada dengking, pekik kebisingan dari suara motor, orang berbincang, yang kerap mengganggu jalannya pujabakti yang digelar di pelataran Candi Mendut di malam hari. Sepintas, sungguh mirip sekaten Jogja. Bukan ritual agama.

Di negeri ini, perayaan agama minoritas kerap dipandang sebelah mata. Bukannya dihormati pelaksanaannya, malah dijadikan atraksi wisata. Para penikmat ritual, entah wisatawan…

View original post 955 more words

Lux Veritatis 7

pope-b16-3

Saudara-saudara terkasih, Saya mengadakan pertemuan denganmu dalam konsistori ini, tidak hanya bagi tiga kanonisasi, tapi juga untuk menyampaikan keputusan yang sangat penting bagi kehidupan Gereja. Setelah berulang kali memeriksa suara hati saya dihadapan Allah, saya tiba pada kepastian bahwa kekuatan saya, dikarenakan usia lanjut, tidak lagi pantas untuk menjalankan pelayanan Petrus yang memadai. Saya sangat menyadari bahwa pelayanan ini, dikarenakan hakekat rohaninya yang bersifat spiritual, harus dijalankan tidak hanya dengan perkataan dan perbuatan, tidak kurang juga dengan doa dan penderitaan. Namun, di dunia sekarang, yang tunduk pada banyak perubahan yang cepat dan digoncangkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang erat berhubungan dengan kehidupan iman, untuk memerintah bahtera St. Petrus dan menyatakan Injil, kekuatan tubuh dan pikiran saya diperlukan, kekuatan yang dalam beberapa bulan terakhir, telah sangat menurun sampai saya harus menyadari ketidakmampuan saya untuk memenuhi pelayanan yang dipercayakan kepada saya secara memadai. Untuk alasan ini, dan menyadari keseriusan tindakan ini, dengan kebebasan penuh…

View original post 284 more words

113 Hours of Happiness

Febrina Widihapsari

Finally, I made my 5-day-travelling story into this blog! Balik lagi ke Bandung. Hectic banget ya di sini. Rasanya rindu sama suasana di Malang sana. Liburan di Malang, rasanya waktu berjalan dengan lambat, udah di Bandung, yealeahhh kayaknya baru bangun tidur kok udah mau tidur lagi. haha. Yep! Saya terkenal post-holiday-syndrome. Tolonggg!

Liburan kali ini saya ber-5 plus Susi, Niken, Myra, dan Iren. Ceritanya si udah hampir 3 minggu resmi lulus dari bangku kuliah terus pengen banget traveling bareng temen-temen sepermainan sebelum akhirnya berpencar dengan kehidupan masing-masing. Tadinya pengen bawa pasukan yang lebih banyak. tapi repot ngurusnya.  Jadi tanggal 27-31 Jan kami ke Malang. It took 16 hour on train Bandung-Malang. Gileee benerrr yaaa sampe mati gaya di dalem kereta.

Perjalanan ini dimulai dengan sangat menyenangkan. Bertemu dengan orang yang unik-unik. Dan saya percaya selama 4 hari ke depan pasti lebih menyenangkan. I am more insterested at sharing the story of nice people there, which made me feel warm!

One story about the crew on the train. Namanya Endang Koswara (baca di seragamnya, hehe). Dia heboh banget di perjalanan dari Bandung-Malang (16 jam). Dari awal sampe akhir perjalanan beliau merhatiin kami yang cewek semua dan lumayan berisik apalagi malam-malam masih suka kedengeran suara cekikikan. Don’t blame it on me yah… Sampe pada saat kereta hampir sampai di Stasiun Malang, dia berkata, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan ADEK-ADEK (sambil lihat ke kami berlima), terima kasih sudah menggunakan Kereta Api Malabar. Semoga perjalanannya menyenangkan. Yaa ADEK-ADEK, masih pada sekolah kan? (dia nanya ke kami, saya nahan-nahan ketawa ga karuan rasanya) Masih muda, harus jaga iman. Semoga Adek-Adek bisa menjalani hidup dengan benar, belajar yang rajin, jauhi narkoba.”

OKE PAK! Siaaappp dehh… haha

Morning view from train
Morning view from train

Pas di kereta kalo udah jam 5 pagi, saya sudah stand-by di pintu gerbong, sampe berkali-kali diperingatkan untuk berhati-hati berdiri di pintu yang terbuka saat kereta berjalan sampai akhirnya diusir sama petugas keamanan. huhuhu.. Lumayanlah udah dapet beberapa jepretan…

Second story about tukang jualan soto near Stasiun Malang. I tracked a location to Helios Hotel on GPS, terus kayaknya ngaco deh, masa katanya butuh 30 menit jalan. Ya bener ajaaa, wong katanya jalan cuma 5 menit aja. Terus nanya ke tukang soto. He pointed the direction us to go there, and it’s easy to find Helios Hotel, it’s so close. Kami jalan kaki dari Stasiun ke Hotel, heboh banget saya waktu liat dari kejahuan Kampong Tourist di rooftop hotel Helios. COOL!

Third story about Mas Henry. Yep! First time I met him at Helios Transport‘s office when I was looking for Mas Wahyu. Ceritanya si saya mau ngurusin tour yang udah dipesan, tapi disuruh nunggu yang namanya Mas Wahyu itu. Ya udah kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota Malang. Berbekal peta yang dikasih Mas Henry. Lumayan lah, liat pemandangan baru. Dari hotel, balai kota, pasar burung, katedral, alun-alun, Klenteng (lupa namanya), Ijen, Museum Brawijaya trus mampir ke MOG cuma buat numpang duduk sambil nungguin hujan reda trus makan es krim. Dari MOG nyobain naek angkot yang warnanya sama semua, turunlah kami di Sarinah trus mampir lagi di Toko Oen. Baiklah sodara-sodara, Malang nggak seribet Bandung untuk ditelusuri!

Peta yang udah dicoret-coret sama Mas Henry
Peta yang udah dicoret-coret sama Mas Henry

Fourth story about Mas Wahyu. ( Cieee… did I just mention Mas Wahyu? Yes I did ). Akhirnya tatap muka langsung sama ni orang. Dari tanggal 9 Januari pertama kali browsing di internet eh nemu tempat yang namanya Kampong Tourist, kece banget tempatnya. Trus seperti biasa, saya jadi tumbal, bagian ngurusin ni acara. Telponlah saya ke nomor yang tertera di website. Terus ngobrol, nanya-nanya panjang lebar tentang tournya, first thought about him : Semangat bener ni orang. Inget banget tu pas pertama telpon, udah manggil saya Ibu (untung ga saya ditutup), biasalah pasti formalitas kerja. Waktu nelpon saya ‘sedikit’ berwibawa untuk urusan serius, cuman waktu itu udah ga tahan lagi buat ngeluarin suara non-formal saya gara-gara si Mas Wahyu dengan semangatnya ngejelasin tentang Batu Tour, “Iya, nanti Ibu (masih manggil ibu!!!) bisa metik apel sendiri dan bisa metik sepuasnya, kalau di tempat lain itu nggak boleh ambil sepuasnya…” nada sauaranya itu lho kayak yang seru banget, sampe saya bilang, “Oh ya? Asikkkannn!” sambil pengen ngakak. Hwhwhw.. Akhirnya dari telpon awal itu, trus email2an. Cocokin harga dsb. Sampe akhirnya deal dan ketemu langsung di Malang. Pertama ketemu di kantornya, sambil nahan-nahan geli sebenernya, inget dialog yang metik apel itu.

Tapi ya, dipikir-pikir, waktu itu saya nelpon ke kontaknya yang Kampong Tourist, tapi kenapa bisa nyambungnya ke Mas Wahyu yang ada di Helios Transport? Nah lho.

Fifth story about Mas Budi alias Budi Tato, alias Cak Man. Haha. Dia punya banyak tato. Salah satu yang menarik perhatian tato mata di tengkuknya. Di tangan kanannya juga ada, tato bertuliskan aksara Jawa. Mas Budi, seorang driver yang sabar buat touring ke Batu. Sabar liat kelakukan saya yang aneh-aneh dan dengerin cerita kami yang konyol-konyol, jadi dia juga suka nyetir sambil ketawa-ketawa. Kadang saya suka nggak betah diem, buka-buka dasboard, pinjem korannya. “Sabar ya Mas…” kata saya. “Iya Mbak, nanti nama saya ganti jadi Sabar…” katanya sambil ketawa. Nggak baik kan nyetir terlalu serius. 🙂 Eh besoknya ketemu lagi di hotel udah gila aja sendiri, tiba-tiba muncul habis denger suara ketawa suara saya.

Sixth story about Mas Herry. Our driver to Bromo. Berperawakan gemuk, ramah, lucu. Pertama kali ketemu Mas Herry pas pertama kali menginjakkan kaki di Helios. Udah nyapa aja beliau. Hehe. Bersama Landy-nya dia udah stand by pagi-pagi. kaget dia pas liat saya udah ada dibelakangnya pas lagi bersihin Landynya. Haha. Padahal saya udah pernah ke Bromo sebelumnya. tapi rasanya ini lebih dari pengalaman pertama saya waktu itu, baca linknya di sini… Bromo : Mau Lihat Sunrise Seperti Mau Nonton Konser . Yang bikin pengalaman ini beda pertama karena naik Landy, karena sebelumnya naik Jeep biasa, trus bisa naik di atas Landy sampe diliatin banyak orang. Dan saya merasa alay kayak Zafran di film 5 cm yang mendadak jadi puitis gitu. Pemandangannya indah banget, dan Mas Herry udah tau spot-spot kece buat difoto. And I wondering, ke mana aja waktu pertama kali ke Bromo? Waktu itu ga nyantai si perginya jadi aja melewatkan pemandangan seindah ini.

Bromo Tour with Mr. Herry
Bromo Tour with Mr. Herry

Seventh story about Kang Didit alias Mas Fyan. Guide kami buat keliling-keliling Malang di hari terakhir sambil killing time lah ceritanya nunggu jadwal kereta sore. Banyak sekali ceritanya, info-info seputar malang saya dapatkan. Waktu itu juga sempat jalan-jalan malam sebentar muterin hotel-stasiun-tugu-hotel lagi. Dan ternyata deket hotel ada tempat prostitusi ya. wkwkw.. dipikir-pikir kok tempat kayak gitu kebanyakan deket stasiun. Wondering why? I dunno.

Eighth story about Mas jualan ayam kremes plus lalapan deket hotel. Kocak banget! ngelayanin kami kayak yang kewalahan gitu, dan baru tau dari Kang Didit, kalau dia dari Tasik. Sunda deui sunda deui.

Lalu, cerita tentang staff di Kampong Tourist lainnya. Mereka lucu-lucu dan ramah-ramah. Mas-mas dan mbak-mbak. rata-rata mereka masih kuliah, otomatis lebih muda dari saya, tapi saya salut mereka udah mandiri gitu. Terus mereka penasaran pas kami nulis di guest book, soalnya kami gambar-gambarin bukunya. jadi rame. mudah-mudahan berkesan ya apa yang kami tulis di sana, soalnya buat saya sendiri, pengalaman 4 hari di Malang dan tinggal di sana sanggggaaattt berkesan.

At last but not lease, story about my travelmate. Susi, Niken, Myra, dan Iren. Mulai dari di kereta 16 jam sampe bego; gazebo kami yang berantakan bukan main,bikin malu kalau ada staff KT atau bule lewat mau mandi atau ke WC; lagi di Secret Zoo ujan, trus beli jas hujan, eh pas dipakai liat rombongan anak TK juga lagi pake jas ujan, bikin malu saja. Trus di BNS paling nggak lupa pas main BattleLaser, sumpah deh lain kali cari sekutu yang mudah diarahkan dan bukannya bingung dan muter-muter saat diberi petunjuk buat menembak diarah jam 6. haha.

Kita kayak anak TK di Jatim Park 2
Kita kayak anak TK di Jatim Park 2

Trus pengalaman di Bromo, kami (Susi, Niken, dan Saya) berjuang memberi semangat buat Myra dan Iren buat sampai di puncak kawah itu. Kami betiga udah di atas, kami memantau mereka berdua. Akhirnya kami sampai atas juga. Yeay! belum lagi peristiwa konyol dari pengunjung lain, ada yang pingsanlah tapi orang yang disangka pingsan tetep ngotot ke temen-temennya kalau dia itu tertidur, bukannya pingsan. Saya sih setuju sama temen-temennya kalau dia pingsan, habisnya udah digoncang-goncangkan badannya ga bangun-bangun juga. Gengsi kali ya. Trus ada pula orang yang numpang tidur doang di atas. Ada pula serombongan cowok-cowok keren yang salah satu dari mereka mengaku ketakutan di atas dan ngerasa nggak balance sampe nggak berani berdiri buat turun. Hadehh.. lucu banget dah di atas situ. Aneh-aneh aja orang.

Foto yang bakalan bikin ngakak terus
Foto yang bakalan bikin ngakak terus

Dan kami nggak punya foto yang bener-bener melek pas di atas sana. Hinaaa banget dahh kalo liat foto ini. Ngakak pooolll!

Maaf lho kalau saya suka bikin ribut dan kadang bikin malu kalian berempat (pasti kalian sudah maklum ya.. syukurlah). Gangguin Niken dan Susi tidur karena kami seranjang, cekikikan pagi-pagi. nyanyi Wide Awake-Katty Perry. Bikin malu kalian karena pas pinjam payung di satpam helios, payungnya malah kebukanya kebalik jadi menampung air, dan kita ketawa-ketawa ujan-ujannan (kayak pilem India aja). Trus gangguin dan bangunin tidur kalian di kereta, garing banget saolnya duduk terpisah itu. sumpah! Tapi ketawa-ketiwi juga malem-malem ngetawaiin mas-mas, ngetawain seorang anak kecil yang ngeliatin saya dengan malu-malu. Kenapa dek, ngefans yaaa sama kakak?! sial, di situ saya di-bully sama teman-teman, katanya… Kakak-adik yang terpisah. Errr! semuanya kebanyakan nonton filem ni!

Terimakasih lho, udah mau terjerumus ajakan saya buat ke Malang, haha. Dijamin nggak bakalan nyesel! Asikkannn…

Maaf lho buat temen-temen lain yang nggak bisa ikut dan cuma dapet oleh-oleh apalagi cuma kebagian liat foto di fb dan mupeng. Dari awal mah kalo bisa aja semua temen, tapi apa daya, saya bukan jasa tour, ngga sanggup ngurusin banyak orang. berlima aja rempong.

Pokoknya perjalanan ke Malang kali ini ga bisa terlupakan! Bareng temen-temen, ketemu dengan orang-orang yang menyenangkan, pengalaman yang nggak terlupakan. Pokoknya membekas banget lah di hati dan membekas di tangan kiri saya. Yaelah, pake acara kejepit di pintu Landy pas dianterin pake Landy ke stasiun sama Mas Herry. Awalnya sok-sok cool gitu karena harus pamitan sama Mas Herry, terus ngelewatin petugas tiket stasiun. Pas udah sampe kereta langsung deh meringis-ringis keperihan. hahaa. cupu.

Kalau nggak nemu website Helios dan nggak ketemu orang-orang tersebut, mungkin beda ceritanya. Ga jamin seseru ini ceritanya. Karena saya udah 3 kali ke Malang, dan ga ada yang ngalahin ceritanya kayak gini.

Malang membekas di hati dan tangan. Ouch!

More info about Kampong Tourist and Helios? read my reviews here.

Peace and love,

Febrina Widihapsari

3 Feb 11:34 PM ditemani hujan dan lagu Owl City

masih terkena post-holiday-syndrome padahal besok udah mulai mencari peruntungan sendiri setelah resmi lulus kuliah. Gawat!

Tour De Malang

View on the top of Land Rover

“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things – air, sleep, dreams, the sea, the sky – all things tending towards the eternal or what we imagine of it.” – Cesare Pavese

Hellooo, officially lulus kuliah tanggal 15 Januari yang lalu. Saya dan teman merencanakan sebuah liburan bareng sebelum akhirnya pada misah, entah itu mulai kerja atau mudik ke kampung halamannya masing-masing. Detik-detik terakhir menjalani Tugas Akhir, udah ngebayangin liburan. Itu adalah salah satu cara baik buat menyemangati diri. Awalnya kami ingin pergi berlibur ke Bali. tapi karena satu dan lain hal batal. Lalu, saya menyarankan pergi ke Malang (racun banget si gue). Saat itu habis sidang Desember 2012 saya lagi asik-asiknya liburan di Solo, eh disuruh cepet ke Bandung buat ngurusin trip ini. Temen-temen pengen Bromo terus ke Jawa Timur Park dan BNS. Lalu saya dan teman-teman mulai googling, and look through tripadvisor on my iPhone app untuk menemukan tempat menginap yang murah. And we found KAMPONG TOURIST website. I was falling in love for the first time. Dibayangan saya, GILAA keren gini tempatnya! Asrama! Pokoknya ini liburan pasti keren! haha. We should make it happen!!! Saya kalau udah jatuh cinta bakalan diperjuangin habis-habisnya. Wkwkwk. Akhirnya saya kontaklah itu di sore hari nan cerah tanggl 9 Januari. Berbincang-bincang dengan seorang pria diujung telpon sana yang baru saya tau namanya Wahyu setelah sms untuk memberitahu detail tour lewat email.

Habis dapet info, mulai deh bikin itetenary yang bener plus biaya-biaya-nya. Dapet tuh angkanya. Trus mulai diumumin ke anak-anak yang mau ikut via fb. Saya suka ga enak buat sms atau email si Mas Wahyu bolak-balik buat nanyain ini-itu. Pasti ntar dikira ga jadi. Haha. Finally jadi juga, seminggu sebelum keberangkatan baru booked tu. Nyohoho, eh si Mas Wahyu ngirim invoice pulak! Untung anak-anak lain udah diumumin harganya, plus ngasih DP dulu ke saya. Jadi pas invoicenya dikirim, tinggal transfer deeehhhh…

This is my reviews :

We arrived in Malang in the morning and had no problems at check-in. It’s easy to found Helios Hotel from train station and so close to get there. We stayed for 3 nights and 4 days (28-31 January) booked triple bed and a gazebo. And it’s very cheap. Triple bed just RP 120.000 and gazebo Rp 125.000. It’s much cheaper than our train ticket from Bandung-Malang. LOL. Both of gazebo or dorm are very comfortable. I slept with ‘kelambu’ haha. Kampong Tourist have a great atmosphere to stay for a long day, with mountain view from your gazebo or bar.  I felt I was spending my time at home. Very very homey. First time we got there, there’s people greet us and there was the owner when we check in. I’m so excited to slept in the dormitory with others travellers (BULE BULE BULE!) all of them are foreign from Norwegia and Russia ( I have a little chit-chat with them)  at dorm. We also booked Batu Tour (apple picking, Coban Rondo Waterfall, Jatim Park 2, and BNS), and Bromo Tour from Helios Transport, we’re very satisfied with what we got for tour. The staffs are very friendly, helpful, informative about anything we like to know and a lots of warm and funny daily convo which made me feel so comfortable with them. Ahhh, I’m looking forward to coming back and take the other tours that they offering. And it’s a pleasure for me to know their staffs personally, we still keep in contact from social media. I miss them. See you again someday.

Overall, it’s very recommended for a longer stay, because it’s so relax and comfy… and is it really worth it!

Here’s the link if you are looking forward for Kampong Tourist and check the tour package from Helios Transport <– you can click over that name…

Kampong Tourist
Kampong Tourist

Beginilah rupa dan bentuk Kampong Tourist yang sempat terekam oleh kamera saya. Kampong Tourist location in the rooftop of Helios Hotel. There are bar and also free WiFi. Dormitory with single, double, and triple bed. Gazebo, you can also enjoy sunset and sunrise with mountain view from top. Yiha!

Bromo and Landy
Bromo and Landy

Bromo tour! We ride Land Rover Classic! Awesome experience.

Lunch at Desa Ngadas
Lunch at Desa Ngadas
Bareng Bule Norwegia di Kampong Tourist
Bareng Bule Norwegia di Kampong Tourist

Thank you to Mas Wahyu, Mas Henry, Mas Fyan alias Kang Didit, Mas Budi Tato, Mas Herry, dan mas-mas dan mba-mba di Kampong Tourist yang lucu-lucu dan ramah-ramah. Thank you, thank you, thank you sooo muchhh… :*

Petualangan Si Rina usai sudah. (ki-ka : si Rina, Susi, Niken, Iren, Myra)
Petualangan Si Rina usai sudah. (ki-ka : si Rina, Susi, Niken, Iren, Myra)

Hore! Bawaan saya tetep yang paling dikit. Ah, Holiday was over. Tomorrow I’ll getting busy.

Peace and love,

Febrina Widihapsari

Bandung. 3 Februari

10:57 am gloomy sunday morning

Dear You…

DKV 2008

19 Januari 2013, waktu itu hampir tengah malam. Saat kami semua, para DKV 2008 duduk melingkar di depan TV Villa Jason Istana Bunga. Mungkin ga semua DKV 2008 dapat berkumpul malam itu Setidaknya di tengah malam yang dingin itu kami bisa menghangatkan malam itu dengan keakraban kami yang sudah terjalin selama 4,5 tahun. Pikiran dan hati kami dihangatkan kembali dengan kenangan yang pernah kami lalui bersama. DKV angkatan 2008.

Dan ketika seorang teman meminta sharing. Di situ pikiran saya udah ke mana-mana. Kalau otak ini direkam kayak udah roll film yang di rewind dengan cepat. Wuzzz balik pas pertama kali ke Bandung…

Masih jelas dalam ingatan saya, pertama kali mengginjakkan kaki di Bandung dan tinggal di sebuah kos dengan kamar yang dalam sejarah perjalanannya sering jadi tempat nunggu kuliah, numpang tidur, sampai nitip barang dan bahkan cuma buat nupang ke WC.

Inget banget pas itu nelpon ke rumah sambil nangis-nangis bilang, “Mau pulang…” Baru sekali dalam sejarah. Me? crying like a baby di telpon apalagi nangis ke ortu. (Wew baru segelintir orang banget yang pernah liat seorang Rina nangis. Haha…) Waktu itu pengen pulang karena rasanya sepi. Yaiyalah baru sehari di Bandung, ngekos, ga ada sodara, dan ditengah padatnya Bandung, teman aja masih dalam itungan jari. Kejam banget hidup. Ngerasa cupu banget dah waktu itu, kenapa? 3 tahun sebelumnya aku baik-baik aja tinggal di asrama sekolahan, eh baru sehari di Bandung minta pulang. Tapi asli, transformasi dari SMA-Kuliah berasa banget. Apalagi adaptasi dari kota kecil ke kota gede begini, butuh keberanian yang ekstra buat merasa nyaman di zona nggak nyaman ini.

Satu persatu teman terkumpulkan, makin banyak, makin banyak, nambah terus temennya.

Dari situ hampir seluruh angkatan 2008 kenal baik. Mulai main-main bareng, pergi, ngerjain tugas, karokean, makan, nge-villa sampe waktu itu bisa menjaring 23 orang buat nonton bareng The Avengers.  (lain kali harus lebih banyak!) Semua yang pernah kita jalanin bareng-bareng ini kompak banget rasanya.

Banyak orang di luar sana yang melihat kita dari sisi kekompakan. Kita perlu berbangga punya hal ini dan perlu mempertahankan kekompakan ini sampai kapanpun. Sampai Pak Willy menulis begini dalam e-mail nya waktu itu pas jamannya ngasih tau format proposal TA. Beliau menulis begini :

“Jangan pelit-pelit sama temennya ya. Please, pay it forward. Perbuatan baik teruskanlah, terlebih kepada teman seperjuangan!

Tunjukin bahwa kalian kompak (khususnya angkatan 2008, dari awal sampai akhir tetep solid).

Sukses ya. GBU all.”

Sampai tiba waktunya ngelihat temen-temen 2008 yang sebagian udah pada lulus dan wisuda. Seneng banget liat mereka pake toga. Rasanya pengen dibeliin bunga satu-satu. Lalu mereka yang sudah lulus sudah jalan masing-masing, dan saya? hanyut dalam TA begitu pula yang lainnya. Berasa banget from kunang-kunang (kuliah-nangkring) to Kupu-kupu (Kuliah-pulang). Berjuang menyelesaikan TA bareng temen-temen tercinta, berhasil lulus bareng mereka.

4,5 tahun bukan waktu yang singkat. Dalam sejarah hidup saya, kota Bandung menjadi kota terlama yang pernah saya singgahi (maklum nomaden). Dan saya bangga banget bisa kenal dan berbagi kisah ajaib dan konyol yang mungkin banyak aibnya bareng kalian. Dan kalianlah yang membuat saya merasa memiliki keluarga di sini dan berhasil tidak membuat saya pulang ke kampung halaman pada saat merengek minta pulang waktu itu. Then, it’s make me so in love with Bandung. And if I could, I do want to stay here any longer. (BRB cari suami orang bandung. Hahah)

Dan, ingat kawan. Kita semua punya mimpi. Mimpi yang mungkin akan terwujud besok, lusa, bulan depan, setahun, 2 tahun, ataupun 10 tahun lagi yang mungkin sudah kita tuliskan di selembar kertas yang tersimpan rapat di “Time Capsule” yang disimpan oleh teman kita Melvin.

Kotak Mimpi Kita 2008
Kotak Mimpi Kita 2008

4,5 tahun dan sebagian besar dari kita angkatan 2008 sudah lulus. Ini bukanlah akhir dari pertemanan kita yang solid. Ke-solid-an kita bakal diuji. Kita bakalan ngerasain yang namanya Long-Distance-Friendship itu ga kalah menyiksanya dengan Long Distance Relationship! hehe. Dengan adanya “Time Capsulle” kita sudah membooking untuk 10 tahun lagi dan melihat mimpi-mimpi yang sudah tertulis itu atau mungkin nanti ada reuni-reuni kecil yang sengaja dan tak sengaja, misalnya saat menghadiri resepsi nikah salah satu dari kita. hahahaaa

Saya mengutip dialog dari salah satu film favorit saya The Perks of Being Wallflower, this is Charlie’s last letter :

We Are Infinite 2008
We Are Infinite 2008

 

 

Emang sedih harus berpisah, udah lulus kuliah, pasti mulai makin sibuk mempertanggung jawabkan kehidupannya masing-masing. Perasaan yang paling dalam ketika harus mengucapkan apa yang tertinggal di dalam kita. Saya percaya ketika air mata teman yang waktu di villa sedang dalam kondisi ‘tidak sadar’ merupakan ungkapan terdalam yang ada di dalam lubuk hatinya (nomention, you-know-who-lah ya haha). Yang kita lakukan hanya tertawa mencoba menutupi kenyataan. Sedih karena kuliah masa kuliah sudah usai, sedih ketika masa masih bisa  ngumpul banyakan seperti ini hanya bisa. Sedih ketika masa HAHA-HIHI-HOHO-HUHU bareng temen kampus kayak gini bakal kita terus nantikan. Dan ingatlah waktu-waktu terbaik yang pernah kita lakukan bersama.

Our pictures will be old photograph someday
Our pictures will be old photograph someday

Pada akhirnya saya cuma bisa bilang, “Saya bangga bisa kenal kalian, bisa lulus bareng kalian.” Thank you for being my family in here. WE ARE INFINITE DKV 2008! Buat yang masih berjuang di kampus juga teruslah semangat, jangan segan kalau butuh bantuan. Saya masih stay di Bandung dan kos di tempat yang sama! Keep in touch ya. Kalau nikah undang-undang haha.

Thank you for all photograph from random photographer, foto sapa aja ni? Ferdi Richardo, Melvin Pranata Xugiman, Irvan Raditya. Fotonya bisa berkontribusi di blog ini. Thank you!

Peace and Love,

Febrina Widihapsari

(designer who write)

26 Januari 2013, 5:48 PM

menjelang malam minggu terkahir bulan Januari sambil memutuskan masa depan