Kala itu (Bersama Tuhan)


Kala itu…
senja lenyapkan siang dari pelupuk mataku
dan tak kulihat secercah cahaya yang masuk ruang hatiku…
Aku berdiam diri sambil terus berjalan mencari lentera,
tapi ruang demi ruang yang kumasuki tak satupun jua kutemukan di mana lentera itu berada

Di mana ia bersembunyi?

Tak lama, hawa dingin mulai menyergap!
menangkap semua derap langkahku…
aku terpaku…
tertegun…

Tanpa kusadari aku terjatuh, berlutut…
mengatupkan kedua tanganku di dada,
menumpahkan kata…
manumpahkan air mata…
Seluruh badanku bergetar,
seiring pula tangisku yang samakin hebat
karna hati dan pikiran berdebat…

Oh Tuhan, kuatkanlah hatiku…

Beribu kata, beribu nasihat, beribu caci,
beribu pinta, beribu penat, dan beribu benci…
tlah kusimpan dalam hati…

Kala itu, aku tersergap oleh perasaanku sendiri…
Dan aku menyerah lalu bertekuk lutuk dihadapanMu…
Maaf, pa bila kali ini Kau melihatku menangis…
Maaf, pa bila kali ini aku merasa patah semangat…
Maaf, kau tak bisa melihat senyumku diperjumpaan kali ini…

Meski begitu, Kau tetap tersenyum mendengar perkataanku…
dan karna senyumMu, kau pancarkan kebesaran kuasaMu
dan aku merasa teramat kecil di hadapanmu…
cukup sudah untuk membuat tubuhku semakin bergetar
karna tumpahan air mata yang tak terbendung,
hingga lutut ini tak mampu menopangnya…

Aku terjatuh… tertidur…
tapi aku menyadari satu hal…
aku merasakan cahaya itu…
membawaku pada rasa hangat dan terang dunia
dan kala ku terbangun,
air mata ini sudah mengering
dan kusadari tanganku masih terkatup…

Aku terbangun dan melihat segalanya…
air mata ini telah mengurapiku dengan cahaya kasihnya yang terang

Akhirnya pada kala itu,
Aku tlah menemukan lentera itu…
dan Ia tidak bersembunyi…
namun Ia menjaga…
hingga aku tak kehilangan arah…

Bandung, 09.09.09
7:25PM