Rahasia Hati


Aku tak tahu apa yang harus ku katakan pada angin,

Aku tak tahu apa yang harus kunyanyikan pada dedaunan,

Aku tak tahu apa yang harus ku tunjukkan pada alam,

Aku tahu apa yang kulukiskan dalam puisi, karena…

Alam melukiskanku pada sosok orang yang ku cintai

Hamparan tanah hijau ini membawaku pada cintanya

Entah berapa lama ia telah menanti…

Menanti cintaku yang tak pasti.

Seperti dunia yang menanti alam ini menjadi indah.

Apakah ia akan mati atau tumbuh dengan subur?

Dunia tidak tahu…

Dunia belum meyakini…

Sama nasibnya dengan lelaki yang menantiku tiada henti, tanpa putus harapan…

Tapi aku tahu di dalam nuraninya,

Tersimpan satu harapan pasti

Harapan mendapatkan cintaku untuk selamanya…

layaknya alam menyembunyikan rahasianya, dibalik pesonanya yang indah…

Dan dunia akan mengetahuinya, bahwa alam mencintai dunia yang tak hentinya menunggunya…

Dan aku ungkapkan rahasiaku pada dunia dan ku ungkapkan pada alam

bahwa aku mencintai lelaki itu…

dan menunggunya, entah apa alasannya…

Bahwa aku mencintainya juga……
suatu hari nanti kita akan mengerti akan arti diri yang sejati…
kita bisa tegak berdiri tanpa ada lagi orang yang berlagak pergi dan kemudian kembali untuk menyatakan janjinya yang dahulu…
Dan kita akan tersadar bahwa selama ini,
dalam waktu yang panjang kita hanya berbalut mimpi,
Mimpi yang indah, tapi tak selamanya indah dalam hati…
membuat kita melupakan kehidupan…
Enyahkau dari mimpiku!
Bawa terbang anganmu melayang jauh bersama deritaku… aku tak mau menyimpan ini selamanya…
Karna tak ada artinya jika terus menderita dalam diam,
kau tau rasanya itu?
menderita dalam diam itu sangat menyesakkan…
bukan apa-apa, hanya aku tak ingin seorangpun tahu jika aku sedang bersedih…
Karena penghiburan itu akan semakin menyiksa batinku..
lebih baik begini, menuangkan dalam lembaran puisi yang menyatu… mengalun bagaikan melodi indah yang bisa mengungkapkan segalanya…
Tulisan ini akan jauh lebih bermakna dari segala ucapanmu yang mencoba menghiburku….
Karna terkadang kau hanya cukup berdiam diri dan menjadi pendengar yang baik di saat temanmu berkeluh kesah…
Semua ini memang harus terjadi,
apa yang kita rasakan,
bagai cuka yang sengaja ditumpahkan dalam air kehidupan..
Tinggal bagaimana kita mengatasinya,
tetap di sini bersama masa lalumu dan di tinggal oleh kehidupan?
atau
berkata “selamat tinggal” dan berjalan terus dan berpijak di tapak hidup yang telah diciptakanNya?
Apa pilihanmu?
Bandung, 30.05