Cahaya Emas


Kala malam menyergap, cahaya bulan emas tak tampak menghiasi langit

entah apa rupanya, sabit, separo, atau purnama…

Yang nampak hanyalah gumpalan awan hitam yang menyatu dalam ikatan hatiku yang sama rupanya

Hujan menyerangku dan tak mau tahu… dinginnya tak mau bergaul dengan keadaan

padahal aku ingin saja bisa meraih tangannya tuk kuajak mengisi hari-hariku,

tapi kebekuan yang terjadi di antara kami membuat kami bermusuhan

Belum lagi angin yang terus menghasut…

merajut kebencian hati pada mentari

Waktu ini, mereka kuasai dengan arogan…

bahkan mentari rela mengalah…

Di malam ini hatiku pun bertaut, pada harapan dan mimpi…

yang menggumpal!

tebal!

tapi tak kebal!

Malam ini aku merasa tak kebal terhadap segala ancaman di dalam diri yang terus mengoyakkan semangatku…

dengan susah payah aku berusaha menambal kekosongan hati ini…

Dinginnya alam membuatku tak ingin dingin pada diriku sendiri…

beku dalam belenggu yang tak menentu…

hanya aku yang bisa meragu pada diri dan akhirnya bertemu jalan buntu

tapi sehitam apa awan di angkasa, secepat apa kilat menyambar-nyambar hatiku

tak ada yang bisa selain diriku tuk keringkan diri dari keraguan yang membasahi sekujur tubuhku

dengan sedikit harapan pada bulan malam ini,

melihat cahaya emasnya yang membawa harapan pada gelap malam…

Aku ingin bertemu dan memeluk sinarnya…

Bandung, 14.10.09

10:59PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s