Requiem of Me*


Ingatlah, cita-cita sangatlah penting… mau menjadi apa kamu kelak? selain itu jadilah pribadi yang menyenangkan… agar kelak ketika waktumu sudah habis kau bisa meninggalkan kenangan bagi yang ditinggalkan…

………

Kita akan bergerak maju…dan terus maju, sampai tiba saatnya menemukan takdir kita… MENINGGAL.

Rebahkanlah dirimu…
Bayangkan saat ini kita terbaring di dalam peti. Peti mati. Lihatlah diri kita yang sudah tak bernyawa lagi.
Bau-bau kembang dan dupa memenuhi rumahmu…bau yang sangat khas… Serta musik dan nyanyian yang mendayu-dayu penuh kedukaan…
Pie Jesu Domine, dona eis requiem.
Dona eis requiem sempiternam.”
“O sweet Lord Jesus, grant them rest;
grant them everlasting rest.”

Pikirkan dalam benakmu… saat kau mati, dalam hidupmu kau sudah menjadi apa? Sebagai presiden kah?sebagai pengusaha sukses? sebagai designer? atau wartawan? atau Artis? atau Guru? Bayangkanlah sesuai apa yang kau cita-citakan.
Bayangkanlah pula saat ini di samping peti matimu ada banyak orang yang ingin melihatmu untuk terakhir kalinya. Jasadmu telah dirias sebaik mungkin. Kau menggunakan baju yang indah dan ada Rosario dalam genggaman tanganmu… Lihatlah orang-orang yang kau cintai berdiri di samping petimu dan menangisimu. Lihatlah mereka, mungkin suami atau istrimu, anak-anakmu yang sudah dewasa, atau mungkin cucu-cucumu. Lihatlah mereka menangisimu, betapa besar rasa kehilangan akan dirimu. Tangisan mereka amat memilukan. Butiran-butiran air mata jatuh menimpa jasadmu yang dingin.
“Papa!…. Mama!….”
“Kakek!… Nenek!…”
Dengarlah suara mereka yang parau memanggilmu. tangis yang sesunggukan membuat mereka tak sanggup berkata apa-apa lagi.

Bayangkanlah pula kerabatmu hadir di sana, tetanggamu, semua orang datang ke rumahmu dan memberikan bunga duka cita. Mereka tampak sedih kehilangan sosokmu..
lihatlah pula di belakang sana, ada pula orang yang tertawa dalam hati karena melihatmu telah tiada…
Mungkin ada pula orang yang tak kau kenali tapi dia mengenalmu, ikut berduka.
Semakin banyak orang yang datang padamu… berarti kebaikanmu dan peranmu selama masih hidup di dunia sangat diperhitungkan oleh mereka.
……..
Upacara pemberkatan jenazah akan segera dimulai. Pastor memimpin dan memberkati kau…
“Berangkatlah memasuki kehidupan abadi dengan membawa tanda kemenangan Kristus : Demi Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.”
Kau merasakan tubuhmu diperciki air suci.
……..
Tibalah saat di mana petimu akan ditutup. Semua orang memberikan penghormatan terakhir untukmu.
Beberapa orang menggotong tutup peti matimu dan menutup petimu yang terbuat dari kayu jati yang terukir ‘Perjamuan Terakhir’. Kau dengar isak tangis menggema diseluruh ruangan. Petimu sudah ditutup. Sempit dan gelap.
Perlahan petimu digotong ke dalam mobil jenazah.
bayangkan saja siapa saja yang ikut bersama di dalam mobil jenazah dan yang mengiringi kepergianmu menuju tempat peristirahatan terakhir.
………
Jenazahmu siap dimakamkan. Tempat perisitirahatan terakhirmu bersanding dengan kedua orang tuamu. Semua orang bisa datang dan menaburkan bunga di atas kepalamu dan memanjatkan doa untukmu.
Dibawah langit hujan membasahi tanahmu, panas mengeringkan tanahmu… dan semua menjadi debu kembali…

*”Requiem of Me” – dapat diartikan “Kematianku”

sebuah catatan kecil setelah Retreat
13-15 September 2007
Wisma Fransiskus Muntilan

“Tuhan, simpanlah kasihMu dalam hatiku”