Sehabis Interview


Denny nampak bergegas memasukkan sejumlah berkas-berkas tulisannya ke dalam posman bag-nya yang sudah usang. Disampirkan tas itu di pundaknya dan ia berjalan melewati meja kerja teman-temannya. Belum seberapa jauh ia melangkah temannya memanggilnya dan memberikan recorder pada Denny. Ya, dia lupa memasukkan recorder dalam tasnya, senjata andalannya dalam bekerja. Kalaupun tertinggal toh dia masih bisa menulis hasil interview di notes kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana, tapi itu tidak cukup praktis. Setelah menerima recorder dan memasukkannya ke dalam tas, Denny nampak semakin bersemangat melangkahkan kakinya dan ia segera beranjak pergi.

Sebagai wartawan, Denny selalu mengisi kolom ‘Profil’ dalam Koran lokal di daerahnya. Semenjak ia dipromosikan oleh atasannya untuk menjadi editor, semangat kerja Denny semakin menggebu-gebu. Dalam usia yang masih bisa dibilang muda, 26 tahun, karir Denny pun semakin menunjukkan perkembangan yang pesat. Hari itu ia ada janji interview dengan tokoh agama yang terkenal di kotanya, seorang Pastor di sebuah gereja tua dipinggir kota, dan ia harus ke sana untuk melakukan interview. Profil Pastor itu akan dimuat di Koran lusa dan deadline tulisannya harus sudah masuk ke editor malam ini.

Siang itu, usai melakukan wawancara Denny tidak segera kembali ke kantornya untuk menulis artikelnya. Ia duduk di bangku taman gereja dan memandang sekitar. Tak lama ia mendengar lonceng gereja yang dibunyikan. Ia tertegun sejenak memandang bangunan kuno yang berdiri kokoh di depannya. Teringat kata-kata yang diucapkan Pator tadi saat wawancara, “Jika kamu ingin bertobat, berdoalah! Berdoa dengan hatimu.” Kalimat itu terus teringang-ngiang dibenaknya. dadanya terasa sesak. Dilangkahkan kakinya perlahan, lalu berhenti tepat di bibir pintu gereja. Dipandangnya lurus ke depan, nampak salib menggantung di sana. Jantungnya berdegub kencang, diremas-remas jemarinya yang mendingin. Ia berjalan mendekati altar dan ia tak kuasa untuk bertekuk lutut dihadapaNya. Dikatubkan kedua tangannya di dada. Matanya terpejam, dan kemudian nampak butiran air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

“Maaf, seharusnya aku tidak lupa. Semua yang kudapat saat ini pantasnya ku syukuri… Maaf… Maaf… Maaf…”

Sebegitu sibuk dengan pekerjaannya sampai Denny melupakan Tuhannya. Penyesalan teramat dalam pada dirinya. Ia berjanji tak kan melupakkanNya lagi. Dan begitu ia terpilih sebagai editor, ia tak henti-hentinya mengucap syukur karena semua ini tak lepas dari campur tangan Tuhan. Sekarang ia tak lagi mengejar-ngejar harta duniawi. Yang penting ia giat berusaha dan rajin berdoa, ia akan mendapatkan lebih dari yang ia inginkan.

(trying to make a storyline for videography)