Puisi bercerita #1 : Dia Mengenalku…


Memulai itu semua dengan tidak sengaja.
Bukannya otak ini tak mau diajak bekerja sama, tapi kala itu hatiku sedang berbunga-bunga sehingga seluruh energi positif masuk dan merasuki pikiranku.
Tapi, apa yang kau lakukan sungguh membuatku kecewa. Berat.
Setega itu kah kau mempermainkan perasaan? setega itukah kau memanfaatkan pikiran?
Gilanya dirimu malah tertawa di atas itu semua. Di depan mataku. bersama orang-orang itu.
Mereka menertawakanku semua.
Huh, enaknya saja kau lakukan demi kesenanganmu. Bukannya aku tak tahu.
Aku tahu dan aku memperhatikan cara permainanmu selama ini, tapi aku tak sadar bila akhirnya akan seperti ini.
“Hei, permainanmu sudah diluar batas!”
Hei, siapa yang peduli dengan teriakanku itu? Tak ada wasit dari permainan ini. yang ada hanya penonton yang bersorak-sorai.
Dan aku tak dapat lagi membedakan mana sorak-sorai mencercaku dan sorak-sorai yang mendukungku, menguatkan aku, mengkasiani aku…

Sesaat aku menjadi kecil.
Mau lari ke mana ini dalam kepungan massa?
Saat itu aku hanya mampu berdiri tegak, menatap penonton dan berkata, “Aku baik-baik saja” dan tersenyum seperti biasa.

Ada seorang yang menatapku dari kejauhan dan dia tahu kalau aku berdusta. rasanya dia bisa melihat binar mataku yang berkaca-kaca mencoba tegar menghadapi semua. Ia tahu. Ia tahu aku. Ia mengenal aku. Dia benar-benar tahu aku. “Aku rapuh!” begitulah yang ia tanggap dari matanya.
Sesaat aku sadari kehadirannya, justru kehadirannya membuat isakku tertahan. Dia, hanya dia yang tahu bahwa Aku bukan gadis tegar yang selama ini kalian lihat selalu melemparkan tawa dan canda. Dia tahu bahwa aku kesulitan berkata dalam kesedihan. Dia tahu aku, tahu bagaimana aku diremehkan! Semuanya dia tahu….
Aku hancur.
Aku tak bisa apa-apa.
Hanya punggung ini bergetar menahan isak yang tak kunjung mau tumpah.
Dan selalu hanya ada senyum ini yang selalu menahan sedih.

Dan dia tahu, aku tidak akan goyah bila diremehkan orang begitu saja. Karena dia tahu, aku bisa bangkit sendiri dan merasakan kemenangan dalam kesabaran.

Lalu apakah dia tahu, kalau aku menyukai dirinya?