Puisi bercerita #2 : Lagi-lagi Aku Berlari


Nafasku terengah-engah…
Mentari masih berada di ufuk tapi aku sudah mulai berlari
bahkan ayam pun belum berkokok

Hidup macam apa yang kujalani ini?
Tiap hentakan langkahnya menghadirkan kegetiran dalam diri
Berupaya berada dalam singgasana kenyamanan, tapi hati tak kunjung berlari

Bukan mauku tuk terus berlari, keadaan ini, daerah sekelilingku terlihat sebagai arena berlari
Nafasku terus terengah-engah…
“Satu… dua… tiga…” aku mecoba menghitung langkah demi langkah yang sudah kulalui.
Posisi sebagai pelari tunggal? Tidak!
Hei, di mana kalian? Sesaat tersadar aku menghentikan langkahku dan membiarkan lawan-lawankuk dengan mudahnya melewatiku.
Harusnya aku tidak sendiri, aku harus menyerahkan tongkat estafet ini ke tangan rekanku.
Di mana mereka? Jarak yang kutempuh rasanya sudah jauh, sudah waktunya menyerahkan tongkat ini. Aku tak melihat uluran tangan sedikitpun. Bagaimana ini? Haruskah aku berlari memenangkan perlombaan sendirian?
Tidak!

Tidak bisa begini!

Harusnya kita berjuang bersama. Peluh yang kuseka semakin banyak. Tubuhku terlanjur basah kuyup dengan keringat. Kulihat lawan tersenyum padaku, menyadarkanku bahwa pertandingan masih berlanjut. Aku berlari. Lagi-lagi aku berlari…

Fokus!
Fokus!
Fokus!

Benar-benar tak menangkap uluran tangan itu. putaran demi putaran kulalui, aku meminta pertolongan pada temanku karena aku merasa daya tahan tubuhku sudah melemah. Dia menyambar tongkat di tanganku dan melanjutkan sisa pertandingan. Aku melihatnya berlari kencang menuju garis finish.
Aku tahu kami tidak memenangkannya, tapi kami sudah menyelesaikannya…
Lega?
Tidak!

Aku masih harus berlari mengejar ketinggalan…
mencari teman-temanku yang tersesat dalam kepiluan.
Aku berlari.

08.13 a.m.