Puisi bercerita #3 : Senja di Tepi Jalan Raya


Sungguh pilu hatiku menyaksikan bakat-bakat alam yang berceceran di tepi jalan.
Bukan mau mereka mengadu nasib seperti itu, tapi apa mau di kata…

“Stoberi! Stoberi!”
“…….. kusuka dirimu mungkin aku sayang….”
Sayup-sayup kudengar suara mereka yang menyimpan banyak harap pada pengendara di jalanan. Berharap ada yang membeli dagangan mereka, dan berharap ada yang menyisihkan sepeser uang untuk dimasukkan dalam gelas plastik bekas.

Asap-asap kendaraan bersatu membentuk polusi.
Deru-deru mobil menjadi harmoni yang tak sedap di dengar.

Ah. Aku di sini duduk menatap langit.
Jingga. Lembayung.
Aneh.
Bagus.
Awannya lembut dan menawan dengan guratan-guratan cahaya yang terpancar dari baliknya.
Matahari hendak pamit tenggelam. Tenggelam di balik baliho di jalan. Pemandangan yang menarik bukan?

Lampu hijau menyala.
padat. semua berebut mengambill tempat terbaik.
dan aku duduk di sini. di tepi jalan raya. dengan kamera menggantung di leherku.
Potret kehidupan yang tak ada habisnya….
setiap hari, setiap waktu.. seperti itu…

yang kulihat dari balik lensa hanyalah…
Kegalauan.

09.40 p.m.