Untuk Ayah


Aku ingin mengusap peluhmu kala mentari menyengatmu saat menanam di ladangku
Aku ingin memijat bahumu kala ragamu terasa lemah
Aku ingin merapikan rambutmu kala sisir pun sudah kau lupakan
Aku ingin menjadi tetap menjadi peri kecilmu meski aku beranjak dewasa

Aku ingin tetap mendengar nasihatmu,
Aku ingin tetap melihat tawamu,
Aku ingin tetap mencium tanganmu,
Aku ingin tetap menatap matamu yang syahdu,
meski waktu mulai senja, saat waktu mulai memakan usia.

Apa yang tidak kuketahui darimu?
Anak perempuannya yang kini beranjak dewasa, yang sering melupakan dirimu, Ayah…
dalam hati ini aku bersyukur memilikimu, dan menyebutmu Ayah… Ayahku.
Ternyata aku baru tahu, dibalik dompet hitam usangmu itu terselip wajah diriku meski tiada ruang khusus untuk memajangnya, tapi aku bahagia…
Saat ku tahu, dibalik lembaran uang itu kau menyimpan sesuatu yang tak ternilai harganya…
foto usang diriku,
dan kau tersipu malu saat tak sengaja kumelihat foto itu terjatuh dan kau buru-buru menyelipkannya di antara harta yang fana itu.

“Untuk Ayah tercinta, aku ingin bernyanyi walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi…”