Buah Pena dari Jogja


Di penghujung Januari. Banyak sekali yang hendak diceritakan di sini. Semua yang terjadi bulan ini dan bulan-bulan sebelumnya merupakan batu loncatan yang besar untuk bisa melompat lebih tinggi, untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita “ada”. Kita bukan hanya sekedar manusia yang punya nama. Tapi bisa lebih dari itu.
Dan semua batu kerikil yang membuat kita tersandung, menyadarkan kita, membangunkan kita untuk tetap fokus ke depan, bukannya melamun dan terus hidup dalam mimpi. Bersyukur pada kerikil-kerikil itu, karena membuat kita ingat akan sesuatu yang namanya… SYUKUR. Syukur atas apa yang terjadi hari ini, syukur atas berkat Tuhan yang telah menegur kita sehingga mata kita terbuka.

Bulan ini berkat Tuhan sungguh melimpah pada kami semua, dikhususkan untuk teman-teman delegasi Maranatha yang mendapat kesempatan pameran di acara Diskomfest #4. Ijin dari kampus yang sempat dicabut karena peristiwa meletusnya gunung merapi (bulan November 2010) tak memadamkan semangat kami. Acara yang semula pada akhir bulan November 2010, dipindah ke akhir bulan Januari 2011 (22-26 Jan), sempat merasa sedikit kehilangan arah. karena merasa ada semangat yang melempem dalam jiwa saya. antara optimis dan pesimis. entah perasaan apa itu. Yang jelas, saya sebagai koordinator tim harus merombak ulang teman-teman yang mau jadi delegasi, serta teman-teman yang mau menyumbangkan karyanya.

Tema Culture Expansion yang diangkat membuat saya awalnya angkat tangan. Saya tahu, di kampus banyak anak-anak yang berbakat, banyak anak-anak yang karyanya “TOP MARKOTOP” dengan Digital Paintingnya yang gila-gilaan, gambar Vektornya, karya Fotografinya, Poster, Lukisan, dan sebagainya yang meliputi ruang lingkup DKV, tapi entah mengapa begitu diberi tema yang “Indonesia banget” justru anak-anak yang saya lobi, satu persatu mengundurkan diri dari perhelatan ini. Corak mahasiswa di sini, lebih banyak terpengaruh dengan corak Jepang.
Yang saya mau di sini sebenernya, menunjukkan betapa berbakatnya anak-anak di sini. Saya rasa perlu adanya ekspasi-ekspansi budaya di dalam ruang lingkup kampus ini. Karna sesungguhnya budaya Indonesia ini terlalu indah untuk dilupakan. Banyak yang bilang, “Terlalu tradisional…” “Kuno.” Dan banyak juga yang bertanya, “Bagimana ya enaknya bikin tentang Budaya Indonesia?”
Pemikiran dan pertanyaan itu justru menghambat proses menciptakan karya seni. Kenapa tidak spontan? Terkadang apa yang tiba-tiba terlintas di benak, kemudian diungkapkan, akan menjadi proses brainstorming yang menarik, karena akan banyak galian-galian yang menarik lagi saat kita berdiskusi bersama-sama. Kenapa kita bisa sebegitu susahnya mengungkapkan tentang budaya Indonesia? Apa ini salah binaan? Syukur sekali lagi, sewaktu SMA saya mengambil jurusan Bahasa meski pada waktu itu celaan datang dari mana-mana, termasuk dari guru sendiri. Apa salahnya mengambil jurusan Bahasa? kurang orang? Dianggap sebelah mata? Saya dan teman-teman waktu itu benar-benar berjuang menunjukkan eksistensi Bahasa. Dari Bahasa verbal atau tulisan, saya mengenal Budaya. memang bisa dibilang membosankan karena sering membahas sejarah. tapi seperti perkataan Bung Karno, “JAS MERAH : Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” kita memang perlu melihat sejarah. Begitu masuk jurusan DKV. Saya mulai berpikir untuk membuat sesuatu yang Indonesia banget. Meskipun pada awalnya skill saya terbatas dan basic saya dahulu bukan design, tapi adanya kemauan itu semua bisa terwujud. Adanya evolusi dari dalam diri saya sendiri. Menyadari bahwa penting sekali mengenal budaya-budaya negri sendiri karena sangat bisa digunakan sebagai inspirasi dalam karya seni. Dan saya tak malu-malu mengambil mata kuliah Minor Kebudayaan dan Pariwisata, meski katanya tidak penting dan teori. dan lagi-lagi mendapat celaan dari pihak-pihak karena saya mengambil Minor ini. Saya tak peduli dan akan terus berjalan. Celaan itu justru semakin menguatkan saya untuk tetap bertahan dan membuktikan bahwa pemikiran mereka salah. Kita perlu mengenal budaya kita lebih jauh, tidak ada salahnya jika mempelajari budaya di bangku kuliah. Saya kira inilah salah satu bentuk ekspansi budaya.

Baiklah. kembali lagi ke awal cerita.
Biarlah saya menelan kekecewaan ini sendiri, menghadapi insan-insan muda yang sudah patah semangat sebelum berjuang. Nah, di sini saya mulai merasa semangat saya melempem. Bagaimana memuat kuota 20 karya? Padahal mahasiswa di sini jumlahnya ratusan. Semakin melempem dibuatnya karena ada pihak tertentu yang melemparkan tanggung jawab dan membuat semuanya ini menjadi tidak jelas. Bolak-balik ruang dosen (suatu waktu saya ke ruang dosen pakai sendal, padahal dilarang). Rasanya hiruk pikuk. Kocar-kacir. semrawut. rasanya seperti “Mematikan mimpi-mimpi anak kecil” kalau acara ini dibatalkan, padahal suatu kehormatan besar sudah diundang ke acara ini. Ada pula orang yang sudah excited, tapi hanya sekedar menunjukkan excited dari ekspresi wajah saja.
Ketika semangat melempem dan adanya pressure, membuat saya tambah down, beruntung ada teman-teman yang menyemangati saya. Sejujurnya ini pengalaman pertama saya untuk memegang tanggung jawab seperti ini, menjadi seorang koordinator tidak semudah yang saya bayangkan. tidak asal perintah. Adanya pengalaman seperti ini, saya menjadi kagum pada sosok Ayah saya yang dahulunya adalah seorang yang me-manage lingkungan kerjanya. Dan saya tidak mengerti bagaimana beliau bisa meng-handle nya dengan baik. Mungkin ini menjadi batu pijakan pertama saya untuk kedepannya.

Dan pada akhirnya, kami bersepuluh datang ke perhelatan acara ini di Yogyakarta. membawa serta karya-karya kami. dan bertemu dengan teman-teman baru. melihat karya-karya kampus lain. Saya mencoba melihat. dari apa yang saya amati, karya seni mereka menarik, dari cara mengungkapkan dan mengapresiasikan dalam karya seni tentang budaya tersebut. dan saya berpikir, “Anak sini juga bisa! harusnya bisa lebih!” Cuman yang saya herankan, kenapa mereka sudah give up dulu dengan kata “culture”. Apakah kata-kata budaya ini kurang akrab di telinga anak muda jaman sekarang?
Dan begitu pulang, kembali ke Bandung dan menunjukkan Katalog pamerannya kepada teman-teman. Saya mendapat respon, “Ah, tahu gitu ikutan…”
Saya hanya bisa tersenyum simpul. dan dalam hati memang yakin berkata, “Memang harusnya kalian ikutan. tapi kenapa menolak waktu itu? Padahal waktu pengiriman softcopy karya sudah berkali-kali diundur.”

Oke. Saya tidak boleh menyesalinya. Yang jelas, perjalanan 10 hari di kota Jogja dalam rangka Diskomfest, benar-benar membuka mata kami semua yang ikut ke sana. Dan acara itu benar-benar menginspirasi.
Selamat berkarya!

NB : thx to teman2 Maranatha —> Kak Audi, Reza, Ferdi, Odang, Ori, Marizka, Ade, Chanchan, Noel.
thx to LO kami dari ISI —> Wiko yang rela menjemput kami subuh2 di stasiun bersama Gin2, Yanuar, dan Andri.
Pertemanan kita tetap berlanjut🙂

Peace and Love,
Febrina Widihapsari