Ku luka, luka kah kau? (Dedikasi untuk sahabat)


Tiba-tiba saya terhenyak dari tidur malamku, dan terlintas sebuah lagu yang diajarkan oleh Frater waktu SMA dulu
begini liriknya :
“Ku luka, kau luka
kalau kau luka, ku kan luka…
Ku luka, kau luka
kalau ku luka, lukakah kau?”

(enak kalau dinyanyikan) hehehee

Sometimes, it’s me wonder. . .
Kita mengerti keadaan orang lain, sebagai teman yang sangat baik, kita cenderung mementingkan kepentingan teman (bersama) dibanding kepentingan diri sendiri. Right?
Terlebih adanya masalah, yang membuat kita membantu teman kita.
Sometimes whe should know about our friend. Aku punya kata-kata,
” Sahabat bukan bayangan”
Kenapa saya bilang begitu? Bayanganan itu ada cuman kalau ada cahaya. sedangkan kalau gelap? Mana? kita tertatih dalam melangkah, tidak ada yang menuntun yang akhirnya bisa membuat kita jatuh tersungkur.
Oke this is personal, I dunno what must I do when I get trouble right now. I miss my far-away-best-friend that I ever had. We still connecting under the sky. Oke. kangen untuk cerita semalam suntuk bareng dia, dia suka bikin kesel kalau aku capek-capek udah cerita panjang lebar malah ketiduran. LOL. Namanya NANA. Sama juga dengan teman saya yang dulu notabene adalah adek kelas waktu SMA, namanya DEVI, adek kelas yang dengan PD nya memanggil saya dengan nama panggilan. oke, we’re best friends!
I hate when I must have a long distance friendship like this. Jujur, dari sekian banyaknya teman hanya ada 2 orang teman perempuan yang sangat saya rindukan itu adalah “tempat sampah” saya. Tempat saya mengeluarkan uneg-uneg, kebahagiaan, tangisan, tawa, canda, sarkasme (haha), dan lain sebagainya, begitu dengan mereka sebaliknya. Kami lebih dekat daripada saudara sendiri. Yes, we’re sister, we’re family.
Dan sayang sekali, long distance friendship saya dan Devi kali ini benar-benar jauh, Indonesia-Jerman, Bandung-Frankfurt. Dia orang yang keras untuk mendapatkan yang dia mau. Sama halnya dengan Nana, saya rasanya bersahabat dengan orang-orang yang keras! dan saya belajar sesuatu dari mereka. Keinginan mereka yang keras bikin jadi “gila” sendiri, pikiran mereka sudah didoktrin.
Akhirnya, setelah kurang lebih setahun, Devi berhasil berangkat ke Frankfurt, Jerman kemarin (Selasa, 15 Maret 2011 pukul 00.30). kemaren hampir saja ada pertumpahan air mata, karena minggu sebelumnya, saat dia ke Jakarta untuk ambil Visa di Kedutaan dia ingin mampir ke Bandung. Saya udah seneng bukan kepalang, udah menyediakan waktu kosong buat dia. eh, ternyata dia batal ke Bandung, karena kereta Jakarta-Bandung sore dan travel ke Jakarta dari Bandung hanya samapai jam 8 malam. dia ga mau menginap karena besoknya harus pulang ke Samarinda dulu, ke kampung halamannya. dan begitu saya tahu dia ga jadi ke mari. Sedih. apalagi dia bilang, “Selasa aku udah berangkat”. oke, dengan begonya saya bertanya, “Berangkat ke mana?”… “Jerman”

………………………………………………………………………………………………..

Sepi. Diam. Serrrrrrrrrr. pengen nangis rasanya. Antara senang, terkejut, dan sedih, kalau dikombinasikan seperti ini saya hanya bisa diam membisu. Ah, dan akhirnya dipenghujung pembicaraan saya hanya bisa bilang “Hati-hati ya…”

Oke. Saya sedih dan dia sedih juga karena ga sempet pamitan langsung. karena tujuan dia ke bandung hanya untuk pamitan. oke. dan dia bilang ada oleh-oleh yang belum sempat diterima oleh tangan kanan saya. :((

Oke… pindah ke Nana.
Dia baru saja wisuda pada tanggal 25 Februari 2011 yang lalu. Dia sebagai almamater UGM sangat berbangga karena saya ingat dengan persis perjuangan dia masuk UGM waktu itu, dan sekarang dia sudah lulus dengan predikat Cumlaude. oke semoga cepat mendapatkan kerja, saya tahu keinginan dia keras.

Baiklah sodara-sodara, setanah air. Dua sahabat saya sudah dengan sukses menjalani karir pendidikan mereka. Giliran saya kapan? Kapan saya wisuda? jika Tuhan berkenan, mudah-mudahan 2 tahun lagi. Amin.
Saya senang sekali, bangga sekali dengan mereka.
Teman saya saat sedih dan senang. mungkin kalau lagu itu dinyanyikan sekali lagi, saya sudah mendapatkan jawabanya… “Ku luka, kau luka, kalau kau luka, ku kan luka… Ku luka, kau luka, kalau ku luka, lukakah kau?” The answer is YES! Tapi harus terhalang dengan jarak. karena kalau mau curhat by phone or by sms itu rasanya kurang puas. Dan saya sangat menghindari sekali curhat dengan SMS, karena apa? karena bisa misscommunication. orang baca SMS dengan gayanya sendiri, dengan nada yang berbeda. jadi bikin maksudnya yang kita mau beda. begitu…
Dukungan mereka, yang selalu menyemangati saya dalam pendidikan, dan dalam cinta. Haha. males banget kalau udah bahas masalah cowok. haha. tapi mereka peduli sama saya. kasihan lihat saya sendirian terus. hahaa… (pengen jitak), haha,,, thanks for you attention pals. hehe.,,

Untuk sekarang ini, di Bandung, saya lebih suka curhat dengan teman-teman cowok saya. Walau ada tempat curhat temen cewek juga. Yang bikin saya suka kalau curhat dari cowok itu karena mereka logikanya jalan. NGGAK YA NGGAK. IYA YA IYA. MAJU? TERUS! CUKUP? MUNDUR! Cewek itu kebanyakan mirik pake perasaan, jadinya ga tegaan. Mau putusin cowoknya mikir lamaaaaaaaaaa, kasian lah bla bla bla… yang akhirnya justru menyiksa hati sendiri. oke, pengalaman saya mutusin cowok bisa dibilang ga pake perasaan, (tega banget) haha… kenapa? oke, pikiran saya sudah begini-begini, dan begini. kelau diterusin jadi begini… bla bla… klau diterusin ga baik. oke KITA PUTUS. selesai. walau ada petumpahan air mata.

Jadi, inti tulisan ini, sahabat bukan bayangan ya kawan. Saya suka bertemu dan berteman dengan banyak orang, yang tiba-tiba dekat lalu pergi bagitu saja. BANYAK. daripada sakit hati suka menghilang bagitu saja. Saya suka bertanya-tanya, “kalau kuluka, lukakah kau?” rumusan yang tepat untuk menemukan teman sejatimu, bukan teman bayangan saja.

Tetap jaya terus temanku!
Saya bangga padamu!

__Febrina Widihapsari__
16.03.11_07:47 am