Semenjak saat itu. . .


Dan semenjak saat itu hujan sering mengguyuri kota ini…
Gelapnya tak mudah kuterka, derasnya yang tak mampu kupacu.

Dan semenjak saat itu ada kabar yang datang berkala,
kabar yang sudah tak patut aku tahu.
Dan aku tak mau tahu.

Ketika kukabarkan pada awan keadaanku hari ini,
dia mulai menggumpal, membentuk awan hitam.
Dan perlahan-lahan tumpahan air dari setitik yang tak berasa,
menjadi tumpahan air yang bertubi-tubi menghujam jantungku.
Padahal sudah kupersiapkan payung di dalam ranselku,
tapi payung itu tak berfungsi, karna guyurannya terlampau deras
Benteng penghalang hujan yang telah kupersiapkan,
jebol juga, airnya membasahi badanku.

Ada yang bilang, semesta tahu apa yang kita pikirkan.
Ya. Sepertinya alam tahu apa yang sedang kupikirkan.
karena semenjak saat itu, hujan secara berkala membasahi bumi ini.

Tapi aku benci ketika mereda. karena pada saat itu pelangi mulai membias indah di angkasa.
Ya, bias kenangan itu tidak bisa hilang sehabis hujan.
Bisakah pelangi itu menghilang?
Dan dapatkah aku menghentikan hujan yang semenjak saat itu turun dengan derasnya?
Aku ingin, semenjak saat itu, mentari secara berkala mencerahkan bumi dan angin membawa pergi semua kenangan. . .
Semoga semesta bersatu padu mewujudkan apa yang aku pikirkan. . .

Bandung, 21 Maret 2011
18:55 pm