Sang Penguasa


Untuk sang penguasa yang mengoyak malam
Aku benci untuk terus menemani gelap malammu.
Di mana aku tak dapat menemukan lorong yang ingin ku tuju.
Ini bukan mauku, maumu…
dibawah naunganmu, aku selalu mengorbakan hati yang tercakar, perih.
Aku menumpahkan air mata yang terjatuh, tertatih.
Aku menanamkan akar dalam jiwaku, merindu.

Aku tak bisa membawa hidupmu ke dalam hidupku…
kau bagaikan penguasa malam yang bergerak liar untuk mendapatkan keabadian
Aku tak bisa lagi bergerak di belakangmu, yang hitam oleh bayanganmu.
Aku ingin menyusui lorongku sendiri.
Dan mulai saat ini, kau mengoyakkan tabir itu.
Semula gelap jadi terang.
Semula bimbang jadi pasti.
Semula duka jadi tawa.
Ini awal. Awal yang membawa secercah harapan yang sudah lama meraung-raung dalam hati.
dan pada saat ini, mulanya, dia mulai bersinar kembali. menyanyikan lagu-lagu surgawi
dan belaian sayang ibu pertiwi.
karena hatinya yang tergores, perlahan utuh kembali.

Untuk dia sang penguasa,
jangan alihkan jalanku begitu saja, aku berhak menentukan langkah sendiri demi harapanku yang sudah lama terpendam. Tahu kah kau?

23:51 pm
16 April 2011