Ketulusan Hati


Ada aja yang merusak ketulusan, ada aja yang merusak kepercayaan. . .
Ketika hati benar-benar tulus, tapi ternyata justru dimanfaatkan. . .
Terlampau baikkah diriku? Aku perlu berkaca sekali lagi, karna aku terjatuh dengan indahnya dari lubang yang fana ini…
ketika kau menghitung kebaikan yang kulakukan, aku akan semakin bercermin pada sendiri. . .
karna sepertinya kau telah menghitungnya untuk kesenangan dirimu sendiri.
Untuk yang terdekat, aku akan melakukan yang terbaik untuk temanku. mungkin pertemanan kita yang kurang mendalam, mungkin kamu yang salah mengartikan. . .
Tak peduli saat itu kau bilang hanya guyonan belaka, tapi ada satu yang tersirat dalam benakku, “Apakah aku dirugikan atas tindak kebaikanku?”
Baiknya kau tak usah mengatakan kebaikanku, aku bisa menyadari dari caramu mengatakan bahwa itu hanya sesuatu yang perlahan-lahan menggerogoti hatiku. Semakin kau menyatakan hal yang baik itu, aku semakin berpikir, salahkah aku berbuat baik seperti itu? bagiku kau teman terbaikku yang tak seharusnya meragukan lagi rasa ketulusan. Semakin kumemikirkannya aku semakin tak menemukan jawaban. sebelumnya aku sudah pernah mengatakan, “kalau hanya menilai dari materi kita terus2an merasa rugi. Tapi rasanya saya ga bisa menemukan letak kerugiannya kalau kita IKHLAS. . .”
Sepertinya kau menyalahgunakan apa yang sudah kuberi. pikiran kita rancu.
hari ini aku sudah menelan kekecewaan, semua terteguk jadi satu dalam hatiku dan lama ke lamaan, darah membawanya ke otak dan membebani pikiranku. Ya, karna saya seorang pemikir.

aku bukan seorang pesolek, yang menutupi lukaku dengan bedak ataupun gincu yang tebal. tapi aku perlu berkaca sekali lagi, untuk menemukan di mana letak kesalahanku dan jika memang ada kesalahan, aku tak segan untuk memberikan perhatian khusus agar segera “bersih” kembali.

Aku perlu berkaca.

Terima kasih sudah membuatku berpikir atas segala tindak yang pernah kulakukan padamu…
tapi kenapa kamu begitu? Aku kecewa.