Bromo : Mau lihat sunrise seperti mau nonton konser


Sudah pernahkah anda ke Bromo? Untuk pertama kalinya saya ke Bromo pada pertengahan tahun 2010 bersama rombongan teman-teman mahasiswa Fotografi yang mengadakan Tour Jawa-Bali.

Wuuihhh„ perjuangan jam 11 malam baru tiba di Bromo, keesokkan harinya, kurang lebih jam 3 subuh kami sudah harus berangkat untuk naik melihat sunrise. Ya, kami baru tidur kurang lebih 2 jam.

Perjalanan dari tempat penginapan menuju gardu pandang Bromo menggunakan mobil Jeep yang kuat, karena medannya yg cukup mengerikan (itu yang saya tangkap meski keadaan gelap gulita) dan taaraaaa!! setelah perjalanan yang lumayan bikin kita nggak ngantuk lagi, kami akhirnya diturunkan dipinggir jalan. Pertanyaan pun muncul, “mana? hah?”

“Kita jalan lagi, masih jauh, karena sedang ramai…”

“Whatt??”

Saat itu saya menggunakan 3 lapis baju, 1 kaos yang belum ganti dari kemaren, 1 jumper tipis abu-abu, lalu bagian luar adalah jaket warna pink (OMG! ini jaket yang paling jarang dipake) cuman berhubung jaket itu paling tebal yang pernah saya punya maka saya pakai di Bromo ini. Bawahan? Sendal gunung + kaos kaki…

Akhirnya dari tempat mobil Jeep terparkir, kami berjalan ke Penanjakan, saat itu rombongan menyewa 4 jeep. pada awalnya kami berjalan beriringan, cuman lantaran kekuatan satu dengan yang lainnya berbeda akhirnya jadi “tanpa penghormatan bubar jalan” haha… waktu itu saya termasuk yang tertinggal di belakang. jalanan menanjak, subuh-subuh, dingin, oksigen yang tipis haahhh, bikin beberapa kali saya menghentikan langkah untuk menarik napas panjang, dan melempar pandangan kesekeliling mencari teman-teman. saya agak tertinggal, dan saya meminta seorang teman menemani saya. lega, takut hilang. banyak ojek-ojek motor yang menawarkan jasa, tapi saya berkali-kali menolak, kesel juga lama-lama ditawarin ojek mulu.

Sambil jalan perlahan dengan penerangan yang terbatas, banyak turis-turis asing yang datang, dan mata saya melotot karena di antara mereka hanya menggunakan celana pendek dan tanpa jaket. Oke! saya iri.

Akhirnya, sampai juga di penanjakan itu..

ENGGG INGGG ENGGGG… tidak seperti yang saya banyangkan sebelumnya, di dalam bayangan saya, setiba di Bromo, saya dan teman-teman mendapat spot yang oke buat foto. ughhh, saat itu boro-boro saya bisa melihat gunungnya (memang masih gelap, hehe), sejauh mata memandang, punggung dan rambut. astagaaa! ini penuh manusia, saya merasa mereka semua ini ingin menonton konser bukannya untuk melihat sunrise.

Dan saat itu saya mulai memikirkan teman-teman dan dosen. di mana mereka? auch, di antara bule-bule yang tinggi dan saya yang pendek tentu saja amat kesulitan bagi saya untuk mencari mereka dengan pandangan saja. jinjit saja tetep yang keliatan punggung-punggung mereka.

akhirnya saya memutuskan untuk menelepon teman-teman. rata-rata pada ga nyambung di telponin. OMG! Sampai akhirnya saya menelepon dosen saya, waktu itu saya sangat bangga sekali dengan operator hp Telkomsel yang sinyalnya full. dan akhirnya saya bisa menemukan dosen dan teman-teman itu tepat di barisan depan.

Walaupun sudah di barisan depan, kami semua sedikit kecewa karena kabut tebal yang menutupi pemandangan, padahal sebentar lagi sunrise. Kami semua sudah siap dengan peralatan tempur kami, kamera dan tripod yang sebenarnya tak berguna karena tidak bisa direntangkan lebar ketiga kakinya akibat padatnya massa saat itu.

Walaupun kabut, perlahan-lahan, semburat cahaya orange dari balik kabut terlihat, orang-orang berteriak. Oke. sudah saya bilang, mereka ingin menonton konser, cahaya matahari itu bagaikan artis yang dielu-elukan di atas panggung yang akan muncul. Ya begitulah sunrise di Bromo.

Kecewa. kabut menghalangi keindahan sunrise Bromo yang sering dibicarakan orang. perlahan sudah hampir jam 7 pagi. matahari sudah mulai naik, tapi kabut masih menaungi. Tempat gardu pandang yang semula padat, berangsur-angsur berkurang. mungkin karena kecewa tidak mendapatkan view yang bagus hari itu.

Kami serombongan, bertahan lama. Mendadak langit bersih, kami segera mengintip dibalik lensa dan membidikkan gambar. dosen memberikan teknik-teknik dan kami mulai lagi. tapi, Seeettttt, dengan cepatnya angin berhembus dan membawa kembali kabut-kabut itu menutupi. Kami teriak kecewa. menunggu lagi, sambil ngobrol.

Oiya, dalam rombongan kami ada 2 mahasiswi pertukaran pelajar dari China. saat mereka di sana, mereka banyak bertemu “saudara” mereka. Begitu mereka bertemu yang satu rumpun begitu, rasanya bahagia banget. hahaha… ngomong bahasa Mandarin dengan lincahnya. soalnya di rombongan yang benar-benar bisa bahasa Mandarin hanya satu orang. Sisanya kami menggunakan bahasa Inggris, yang tidak terlalu mereka kuasai. kadang kami menggunakan bahasa tarzan atau meminta teman kami itu untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.

Pokoknya, perjalanan perdana ke Bromo itu mengesankan. setelah puas hunting di Penanjakan, kami turun ke padang pasir. Horreeee!!

Saya ingin kembali lagi suatu hari nanti. Sekarang Bromo apa kabarnya ya sehabis erupsi?