Be Brave


Berani jadi salah satu tema besar kejadian setahun lalu. Highlight 2012 lalu itu memang seputar sebuah keberanian. BERANI mencintai dan meninggalkan, BERANI mencoba hal baru, lingkunan baru, partner baru, BERANI mememperjuangkan dan meraih mimpi yang mungkin jadi garis besar perjalanan hidupku dan pendidikanku saat ini.

Belajar menjadi pemberani nggak mudah. Ketika kamu baru memulai hal baru dan butuh adaptasi dengan segalanya. Semua serba membingungkan. Berani memulai sesuatu yang belum pernah kita lakukan, awalnya layaknya seperti memakai kacamata baru dengan minus yang berbeda. Saat awal kamu pakai kacamata itu, kamu akan merasa tidak berpijak dengan tepat. Dan matamu belum terbiasa dengan apa yang kamu lihat, dan kamu berusaha beradaptasi dengan baik, menjadikan pandanganmu semakin jelas dan pijakanmu semakin kuat. just like when we’re crawling.

Berani sebenarnya masalah seberapa kuat kamu berpijak dan memiliki pandangan yang kuat. Ketika kamu berpijak dengan kuat, kamu akan merasa tidak pernah salah tempat, atau hatimu tidak pernah tergoyahkan untuk meraih apa yang kamu inginkan. Berpijaklah pada iman, berpijaklah pada kepercayaan dirimu, berpijaklah pada sesuatu yang kamu cintai, berpijaklah pada sesuatu yang membuatmu bisa kokoh. Dengan diseimbangin dengan pandangan yang jelas untuk membuat pikiranmu semakin terbuka dan tak terbatas. If you have faith inside of you, you never be a coward.

Berani itu ketika setahun yang lalu kamu berani mengahiri sebuah hubungan dan tidak ada yang perlu kau takutkan lagi ketika kau berhadapan dengan dia, tidak perlu lagi ada yang perlu dipertanyakan ataupun disesali dan tak pernah menyalahkan siapa-siapa ataupun keadaan.

Berani itu ketika setahun lalu kamu berada di lingkungan baru dengan gaya hidup dan latar belakang orang yang berbeda total dari yang biasanya kau jumpai. Tapi kamu berani menghadapi tantangan kejamnya ibu kota itu hingga akhirnya mendapatkan ruang di hati dan pikiran mereka.

Berani itu ketika kamu sedang menyelesaikan Tugas Akhir kuliahmu dengan segala tekanan yang ada. Pada saat itu kau sudah berani untuk tidak menyerah dan dapat menyelesaikan sampai akhir.

Berani itu ketika selama 6,5 tahun kamu sudah berani meninggalkan rumah demi menempuh pendidikanmu dan di saat yang bersama kamu harus mempertanggung jawabkan kebebasanmu. Sebab berani itu memiliki peluang kebebasan yang lebih dengan berani menanggung konsekuensi dan komitmen yang sudah ada.

Berani itu saat kamu memutuskan meninggalkan zona nyamanmu dan dengan pasti kamu merasa nyaman di zona tidak nyamanmu. Itu yang baru saya jalani untuk mencoba berani menemukan kenyamanan di zona tidak nyaman.

Terakhir, berani itu ketika kamu tidak pernah sekalipun berpikir untuk menggoyahkan imanmu terhadap Tuhan, dan berani tidak menentang dirimu sendiri.
Dan terkadang kamu harus berani memutuskan hal dengan cepat seperti menekan “Skip Ads” pada Youtube untuk segala sesuatu yang membuat pikiranmu bercabang. Keep your mind away from something may come to distract your mind and heart.

Sekarang, berani kah kau ungkapkan isi hatimu?

21 Januari 2013
12:24 AM
dari kamar no. 8

Peace and Love,

Febrina Widihapsari