Titik Temu Perjalanan


Mungkin kita melihat dari perspektif yang berbeda.

Tapi bagaimana jika kita saling melihat satu titik temu yang sama?

Pagiku

Sepanjang perjalananku, hari ini aku menikmati pagiku dengan luar biasa…

Mataku tidak lagi lelah, badanku tidak lagi rentan gerak untuk memulai hari meski aku tidur terduduk dalam pelukan diri.

Perjalanan hebat dengan sahabat. Perjalanan yang mengatas namakan cinta dan keagungan Tuhan. Sebuah perjalanan yang membuat mereka tertidur sangat lelap dan senyap ditengah deru suara kereta, namun kulihat bias senyum dan rindu rumah di wajah mereka.

Pagi itu, aku turut menyambut mentari yang mulai berpijar meski sinarnya masih tersamar oleh kabut-kabut mimpi semalam. Dan masih dalam belutan kabut tipis, mataku sejajar dengan hamparan hijau membentang. Indah. Kubiarkan angin menerpa wajahku.

Terduduk kumerenung, perjalananku ini bukan semata mencari sebuah kebahagiaan. Perjalananku ini hanyalah sebagai pengingat bahwa aku harus terus kembali pulang di mana aku berasal. Perjalanan ini menantangku untuk berani melawati batas dan merangkul mimpi untuk kutata rapi. Perjalananku ini selalu mengingatkan aku untuk terus bermimpi. Terima kasih karena sepanjang jalan ini engkau telah rela kubanjiri cerita.

Ada ranah di mana aku menancapkan mimpiku dan aku tidak mau berhenti di sana hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi. Dari tempatku dan tempatmu berdiri kita sudah melihat perspektif yang berbeda. Dan sahabat, mulai dari sini, mungkin kamu akan tinggal, sementara aku akan tetap pergi, pergi menantang angin. Karena ketika aku berdiam, mimpi itu mengguncang diriku berkali-kali. Karena ketika aku terdiam, justru pijakanku tidak kuat. Karena ketika aku berdiam diri, aku akan tertinggalkan oleh perjalanan. Dan bukan pendiam-lah namaku. Aku selalu bergerak. Angin. Berhembus. Memberi nafas segar bagi para pengembara yang sedang letih. Memberi angin baru bagi mimpi-mimpi yang tersisih. Aku bergerak. Berputar. Menari. Bersiul. Membelai lembut wajah para sahabat dengan sentuhan angin di ujung pintu gerbong kereta ini. Menyadarkan mimpi-mimpi yang masih tertidur untuk terus bergerak.

Dalam perjalanan hidup ini aku punya mimpi, kamu juga. Mungkin kita telah melihat dari perspektif yang berbeda, kawan. Mimpimu. Mimpiku. Tapi bagaimana jika kita saling melihat titik temu yang sama? Mimpi kita! Kita akan berangkat. Berpencar. Tapi akan selalu kembali ke sini. Kembali ke Titik Nol di mana kita akan selalu ingat, bukan mencoba melupakan. Karena meskipun kita salah arah, pasti ada sisi cerita yang manis untuk dibagi dan kita akan memulainya lagi dari Titik Nol. Dan di Titil Nol ini kita berjumpa, berbagi untuk sekedar menyeruput kehangatan hidup atau berbagi potongan hidup yang hilang dan tanpa disadari kita saling menggenapi.

Untuk dia sang penyimpan cerita, aku akan selalu menitipkan doa dan cerita di setiap langkahku. Aku ingin kau tetap begini, menjaga dan mengingatkan mimpi-mimpiku yang mulai meredup untuk kau hangatkan lagi dan menjadikannya semakin membara.

 

Sampai jumpa di Titik Nol. Di sini kita berangkat dan di sini kita akan kembali pulang. Bumi.

 

dari meja kerjaku,

Bandung, 29 Mei 2013 12:42 PM

Peace and Love,

Febrina Widihapsari