Bernyanyi Dalam Lelapku

Aku bernyanyi di dalam lelapku,
di kala malam sepi dan hujan mencair
Aku bernyanyi di dalam lelapku,
karena untainya lagunya terlalu mendayu untuk kau ketahui
Aku bernyanyi di dalam lelapku,
agar aku tau betapa dalamnya dukaku kehilanganmu
Aku bernyanyi di dalam lelapku,
agar tak seorangpun tau.

Bahwa aku hanyalah gadis biasa
yang selalu bernyanyi dalam lelap
demi menjaga sebuah kunci hati yang tak akan pernah tersingkap.
Dan aku akan selalu bernyanyi dalam lelapku,
jika kau masih saja tertidur dalam teriakanmu.

20:33
di kamar no.8

Dari Mata Seorang Lelaki

apa yang hendak kutulis?

Hari ini aku berhadapan dengan selembar kertas putih…
kertas yang nantinya akan kulayangkan padamu.

Kucoba memulai merangkai kata. Tapi, aku tak tau harus berkata apa…
Tinta ini tinggal menunggu detik untuk mengering,
tapi isi hatiku tak kunjung tersirat di kertas ini.

Kau membuat perasaanku semakin memburu
detik arloji berpacu dengan detak jantungku,
perasaanku semakin tak menentu dan kertas itu masih bersih.
Hati berkata, tapi mulut tak sampai hati mengucapkannya,
apalagi tangan yang sibuk memutar pena
KENAPA BEGINI?
Beribu malam ku terombang-ambing perasaan ini
Dan kala aku pertatapan dengan kertas putih diatas meja kerjaku ini
Aku masih tak sampai hati untuk mencoretnya…..

….. “Akankah kau mau menemani ku mengisi lembaran kertas kosong ini?
dan menjadikan ini kisah kita?” ….

dari mata seorang lelaki yang memujamu…
Senin. 10.10.11.
04.15 p.m.
:: NB -> tercipta dari dialog bersama kawan di YM yang galau karna tugas surat cinta :p ::

Untuk Ibu Pertiwi yang Tak Henti-hentinya Berlari

Minggu ini temanya Surat Cinta. Shock! pertama kali si dosen ngasi tugas bikin surat cinta buat nanti kita bikin moving text-nya gitu. Okey, this is so hard for me. karna dilain sisi, pengen bikin surat cinta yang lebay yang banyak rayuan gombal, semacam, “Kamu suka menjahit ya? Pantes kamu pinter merajut hatiku… ” hwhwhwhw… awalnya pengen kayak gitu, sumpah. udah ngumpulin jenis-jenis pekerjaan, buat bisa diterusin, ada lagi, “Kamu lagi naik mobil ya?… Pantes dari tadi ada yang klakson-klakson hatiku.” gombal ria emang tema yg hot dan digemari banget. cuman buat ini, lagi pengen serius ih. ga tau kenapa. hhwhwwhww.. ya udah,pada intinya si saya bikin surat cinta juga. hmmm… mirip puisi, tapi jadi ragu apakah ini termasuk surat cinta atau nggak. Pokoknya nikmatin aja.

“Untuk ibu pertiwi yang tak henti-hentinya berlari,
Dua dekade tlah kulalui, pada mulanya kulihat banyak sekali senyum terlahir dari kandungmu
Begitu aku mengerti,
yang kulihat hanyalah sebuah jeritan tangis dari para pejuang yang dahulu mencoba mempertahankan cintamu.
Katanya bangsa ini adalah bangsa yang besar.
YA! Gedung yang besar, di mana mereka duduk di kursi kebesaran mereka.
Dengan jas kebesaran, mereka berjalan melenggang di jalan yang besar tanpa mempedulikan rakyat kecil.

Ketimpangan selalu terjadi, saat kau berlari mereka menanti, menanti saat di mana mereka bahu membahu meruntuhkan dan memutar-balikkan ideologi Pancasila.
Mereka enggan menyisihkan sebutir beras untuk rakyat kecil kala pekerjaannya dihempaskan begitu saja bagai kapas.
Mereka tak lebih dari seekor banteng, yang emosinya mudah terpancing dan tidak dengan penuh rasa kemanusiaan mencari target untuk ditancapkan pada tanduknya.
Menggunduli beringin yang tak lagi membuat sejuk suasana “Bhineka Tunggal Ika” karena mereka telah memutuskan rantai hingga adanya kegamangan social
Mereka pikir mereka adalah bintang penerang kegelapan,
nyatanya mereka adalah bintang dari penyebab gelapnya negri ini, yang selalu mengatas namakan Tuhan.

Ada apa dengan negri ini?
Meski negri ini jungkir balik, kau tak lelah berlari,
meninggalkan mereka yang menyatakan diri sebagai orang yang maju
namun mengambil langkah bisu saat membuat berita palsu.

Kau terus berlari mengejar semua cintamu demi kelangsungan hidup bangsa ini.
Hingga tak terkalkulasi lagi jaraknya, bangsa ini mungkin tak jua kunjung menyadari betapa besar cintamu dan membalas mencintaimu juga menjagamu.
Dan dengan indahnya kita bisa berjalan beriringan.
Dan untuk mereka yang berani mencintai negri ini, menjaga cinta itu agar tetap menyala bagai mercusuar yang mampu membimbing kita menjalani hidup. . .
Demi masa depan yang baik dan tak kan pernah berpaling. . .”

YEEEAAAHHHH.. how bout the moving text? lagi otw dibuat nih. ntar dikasih linknya deh di youtube… hwhwhwh.. Tapi kayaknya perlu dicompress lagi ni, kepanjangan, biar ga repot nanti buatnya. hwhwhw
selamat malam dunia malam galau.
semakin galau. semakin ku merindu. (yaelah)

–Febrina Widihapsari–
Di kamar no.8 yang dirundung kegalauan.

YOU

In this moment, I realize…
that something different inside my soul
I never even know, that you still believe in me
That you still make me wonder, how beautiful love is

You, you, you. . .
I hate when all my memories running fast…
catch me into the past.
You make me feel so in love today
You make me feel like the only girl in the world.
You, you, you. . .
you are my past in my present’s future

But you still like you…
and your stupid things.
And I still hate you when you say “I love you…”
cause I never felt your love so true. . .
How can you make me believe?
Your love is so untrue for me,
cause I’m just need direction.
Leave me and lemme make a movement to catch the bubbles in the sky. . .

Semenjak saat itu. . .

Dan semenjak saat itu hujan sering mengguyuri kota ini…
Gelapnya tak mudah kuterka, derasnya yang tak mampu kupacu.

Dan semenjak saat itu ada kabar yang datang berkala,
kabar yang sudah tak patut aku tahu.
Dan aku tak mau tahu.

Ketika kukabarkan pada awan keadaanku hari ini,
dia mulai menggumpal, membentuk awan hitam.
Dan perlahan-lahan tumpahan air dari setitik yang tak berasa,
menjadi tumpahan air yang bertubi-tubi menghujam jantungku.
Padahal sudah kupersiapkan payung di dalam ranselku,
tapi payung itu tak berfungsi, karna guyurannya terlampau deras
Benteng penghalang hujan yang telah kupersiapkan,
jebol juga, airnya membasahi badanku.

Ada yang bilang, semesta tahu apa yang kita pikirkan.
Ya. Sepertinya alam tahu apa yang sedang kupikirkan.
karena semenjak saat itu, hujan secara berkala membasahi bumi ini.

Tapi aku benci ketika mereda. karena pada saat itu pelangi mulai membias indah di angkasa.
Ya, bias kenangan itu tidak bisa hilang sehabis hujan.
Bisakah pelangi itu menghilang?
Dan dapatkah aku menghentikan hujan yang semenjak saat itu turun dengan derasnya?
Aku ingin, semenjak saat itu, mentari secara berkala mencerahkan bumi dan angin membawa pergi semua kenangan. . .
Semoga semesta bersatu padu mewujudkan apa yang aku pikirkan. . .

Bandung, 21 Maret 2011
18:55 pm